Selasa, 12 Juni 2012

Khaulah binti Tsa’labah - Wanita yang Aduannya Didengar Allah dari Langit Ketujuh


Beliau adalah Khaulah binti Tsa’labah bin Ashram bin Fahar bin Tsa’labah Ghanam bin Auf. Suaminya adalah saudara dari Ubadah bin Shamit, yaitu Aus bin Shamit bin Qais. Aus bin Shamit bin Qais termasuk sahabat Rasulullah yang selalu mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam peperangan, termasuk perang Badar dan perang Uhud. Anak mereka bernama Rabi’. Suatu hari, Khaulah binti Tsa’labah mendapati suaminya sedang menghadapi suatu masalah. Masalah tersebut kemudian memicu kemarahannya terhadap Khaulah, sehingga dari mulut Aus terucap perkataan, “Bagiku, engkau ini seperti punggung ibuku.” Kemudian Aus keluar dan duduk-duduk bersama orang-orang. Beberapa lama kemudian Aus masuk rumah dan ‘menginginkan’ Khaulah. Akan tetapi kesadaran hati dan kehalusan perasaan Khaulah membuatnya menolak hingga jelas hukum Allah terhadap kejadian yang baru pertama kali terjadi dalam sejarah islam (yaitu dhihaar). Khaulah berkata, “Tidak… jangan! Demi yang jiwa Khaulah berada di tangan-Nya, engkau tidak boleh menjamahku karena engkau telah mengatakan sesuatu yang telah engkau ucapkan terhadapku sampai Allah dan Rasul-Nya memutuskan hukum tentang peristiwa yang menimpa kita.” Kemudian Khaulah keluar menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta fatwa dan berdialog tentang peristiwa tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kami belum pernah mendapatkan perintah berkenaan dengan urusanmu tersebut… aku tidak melihat melainkan engkau sudah haram baginya.” Sesudah itu Khaulah senantiasa mengangkat kedua tangannya ke langit sedangkan di hatinya tersimpan kesedihan dan kesusahan. Beliau berdo’a, “Ya Allah sesungguhnya aku mengadu tentang peristiwa yang menimpa diriku.” Tiada henti-hentinya wanita ini ini berdo’a hingga suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pingsan sebagaimana biasanya beliau pingsan tatkala menerima wahyu. Kemudian setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sadar, beliau bersabda, “Wahai Khaulah, sungguh Allah telah menurunkan ayat Al-Qur’an tentang dirimu dan suamimu.” kemudian beliau membaca firman Allah yang artinya, “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat…..” sampai firman Allah: “Dan bagi orang-orang kafir ada siksaan yang pedih.” (QS. Al-Mujadalah:1-4) Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan kepada Khaulah tentang kafarah dhihaar, yaitu memerdekakan budak, jika tidak mampu memerdekakan budak maka berpuasa dua bulan berturut-turut atau jika masih tidak mampu berpuasa maka memberi makan sebanyak enam puluh orang miskin. Inilah wanita mukminah yang dididik oleh islam, wanita yang telah menghentikan khalifah Umar bin Khaththab saat berjalan untuk memberikan wejangan dan nasehat kepadanya. Dalam sebuah riwayat, Umar berkata, “Demi Allah seandainya beliau tidak menyudahi nasehatnya kepadaku hingga malam hari maka aku tidak akan menyudahinya sehingga beliau selesaikan apa yang dia kehendaki, kecuali jika telah datang waktu shalat maka saya akan mengerjakan shalat kemudian kembali untuk mendengarkannya hingga selesai keperluannya.” Alangkah bagusnya akhlaq Khaulah, beliau berdiri di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berdialog untuk meminta fatwa, adapun istighatsah dan mengadu tidak ditujukan melainkan hanya kepada Allah Ta’ala. Beliau berdo’a tak henti-hentinya dengan penuh harap, penuh dengan kesedihan dan kesusahan serta penyesalan yang mendalam. Sehingga do’anya didengar Allah dari langit ketujuh. Allah berfirman yang artinya, “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah (berdo’a) kepada–Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS. Al-Mu’min: 60) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda yang artinya, “Sesungguhnya Rabb kalian Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi itu Maha Malu lagi Maha Mulia, Dia malu terhadap hamba-Nya jika hamba-Nya mengangkat kedua tangannya kepada-Nya untuk mengembalikan keduanya dalam keadaan kosong (tidak dikabulkan).” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
»»  READMORE...

Selasa, 29 Mei 2012

Aisyah ra - Wanita Cerdas Istri Paling Dicintai Rasulullah

Pada zaman Aisyah, di tanah Arab belum ada sekolah-sekolah seperti sekarang. Sebab itu banyak orang tidak pandai menulis atau membaca. Pandai menulis atau membaca adalah suatu keistimewaan. Islam menganjurkan setiap orang untuk belajar menulis dan membaca. Dengan berkembangnya Islam, berkembang pulalah kepandaiana tulis-baca. Nabis endiri menggiatkan ummatnya belajar membaca dan menulis. Aisyah sendiri belajar membaca. Dia belajar membaca Al Quran dari ayahnya sendiri. Hafshah juga belajar tulis dan baca. Untuk mengembangkan pelajaran tulis baca, Nabi mengerahkan para tawanan dari perang Badar. Seorang tawanan bisa mendapat kemerdekaannya kembali, setelah dapat mengajar sepuluh orang Muslimm, sampai pandai menulis dan membaca. Abu Bakar pada dasarnya seorang yang pandai bicara. Dia ahli pidato. Dia juga ahli dalam ilmu ranji atau asal usul nenek moyang. Kepandaian Abu Bakar ini, banyak sedikitnya juga turun kepada anaknya Aisyah. Kepandaian membaca Al Quran memberi pengaruh kepada pribadi Aisyah, terutama dalam hal sopan santun dan budi pekerti. Islam mengutamakan budi pekerti dan akhlak mulia. Tinggi rendahnya derajat seseorang ditentukan oleh pengabdiannya kepada Allah. Keajaiban besar dalam kemajuan sejarah yang dibawa oleh Rasulullah saw ialah perobahan besar-besaran dalam pribadi berjuta-juta manusia. Pendidikan Aisyah yang lebih tinggi terletah dalam asuhan Rasulullah saw. Sedangkan Rasulullah saw adalah seorang guru terbesar dalam sejarah kemanusiaan. Aisyah dididik denga suatu cita-cita tertentu. Nabi membentuk pribadi dan jiwa Aisyah sebagai wanita setia, yang bertaqwa kepada Allah, dan wanita yang akan menerangkan ajaran Islam kepada wanita-wanita lain. Dengan hasrat yang menakjubkan, Aisyah menunjukkan seluruh bakatnya untuk menyempurnakan pendidikannya. Setiap kebajikan manusia, terdapat penyempurnaannya dalam pribadi Muhammad saw. Aisyah tertarik dan tenggelam dalam pribadi mulia yang tidak ada bandingannya itu. Ini adalah suatu kesempatan baik. Dan kesempatan ini, menjadi satu kebahagiaan yang diberikan kepadanya. Dia mengambil kesempatan ini, dan mempergunakan sebaik-baiknya untuk menyempurnakan pendidikannya, menjadi wanita luhur dan bertaqwa. Pikiran Aisyah selalu penuh dengan pelbagai masalah baru. Masalah baru ini dapat dipecahkannya dengan mengajukanpertanyaan-pertanyaan kepada Nabi. Salah satu pintu kamarnya berhadapan dengan masjid. Jika Rasulullah saw bertabligh menyampaikan ajarannya dalam masjid, Aisyah duduk di muka pintunya, mengikuti kuliah Nabi itu. Dia mendengarkannya dengan seksama. Setiap perkataan Rasulullah saw dimintainya dan dianalisanya. Dengan mengikuti kuliah-kuliah yang tidak resmi ini, Aisyah menjadi seorang wanita yang sangat alim dan pandai. Dia menjadi murid Rasulullah saw yang mempunyai pengetahuan yang luas dan pengertian yang mendalam. Dalam ilmu Al Quran dan hadits sedikit sekali sahabat yang bisa menyamai Aisyah. Semangat Aisyah untuk menyelidiki sesuatu masalah, memberikan sumber ilmu yang tetap kepada Islam. Pertanyaan-pertanyaannya kepada Anbi memberikan keterangan atau perbagai masalah yang rumit-rumit, terutama masalah kewanitaan. Salah satu conton di antaranya, Al Quran menyatakan bahwa berperang di jalan Allah adalah suatu kewajiban bagi setiap orang Muslim. Atas masalah ini suatu hati Aisyah mengajukan pertanyaan kepada Rasululllah saw, Wahai Rasulullah, wajibkan bagi seorang wanita untuk pergi ke medan perang seperti laki-laki?Rasulullah menjawab, Tidak, naik haji sudah cukup bagi mereka. Pertanyaan Aisyah ini telah memberikan pengetahuan penting, yakni pengecualian kepada wanita terhadap hukum jihad yang dikemukakan dalam Al Quran. Suatu hari Aisyah bertanya pula, Ya Rasulullah, perlukah persetujuannya seorang wanita itu sebelum dia dikawinkan? Rasulullah menjawab, Anak perawan diberi tahu dan wanita janda dimintai persetujuannya.Nabi melanjutka, Diamnya mereka berarti persetujuan. Kata-kata Rasulullah saw ini menjadi suatu ketentuan hukum baru. Jika orang diam saja terhadap suatu masalah yang diajukan kepadanya, dia dianggap menyetujui masalah itu. Pada suatu hari Rasulullah berkata, Allah menyukai orang yang suka menemuiNya, dan tidak menyukai orang yang tidak suka menemuiNya. Atas masalah yang sulit ini Aisyah menyatakan, Ya Rasulullah, tetapi tidak ada orang yang suka mati. Ya, itupun benar.Kata Rasulullah saw. Tetapi menurut pendirianku, masalahnya adalah sebagai berikut. Jika seoragn telah sadar akan kemurahan hati Allah, dan tahu bahwa Allah pengampun, penyayang dan mempunyai surga, dia akan mulai mencintai Allah di atas segala kecintaannya. Allah pun akan mencintainya pula. Tetapi, jika seseorang mendengar bahwa ada azab yang pedih disediakan untuknya, dia akan takut berhadapan dengan Allah. Allah pun tidak suka kepadanya. Pada suatu hari, Rasulullah saw menerangkan. Ikutilah jalan tengah. Usahakan untuk membawa rakyat lebih dekat kepadamu. Katakan kepada mereka, bahwa mereka akan masuk surga, tidak hanya semata-mata atas pahala yang dibuatnya saja, tetapi juga atas karunia Allah. Pernyataan Nabi ini terasa aneh bagi Aisyah. Sebai itu dia mengajukan pertanyaan, Berlaku jugakan hal ini terhadap diri Tuan? Rasulullah menjawab, Ya, hal ini berlaku juga terhadap diriku. Aku juga harus berdoĆ¢ untuk mendapatkan kasih sayang dan pengampunan Allah. Suatu kali Aisyah berkata mengenai madunya Syafiayah. Wah, dia itu perempuan cebol. Mendengar ini Rasulullah saw menegur Aisyah, Hai Aisyah, kau mengatakan sesuatuayng bisa membusukkan air laut. Maafkan daku, Ya Rasulullah, Aku hanya mengatakan suatu kenyataan. Suatu hari ada barang Aisyah dicuri orang. Karena marahnya, Aisyah menyumpah-nyumpah orang yang mencuri itu. Mendengar Aisyah menyumpahi pencuri, Rasulullah saw berkata, Aisyah, janganlah kamu mengambil alih dosa pencuri itu dengan menyumpahinya. Aisyah mendapat pendidikan akhlak seperti ini, siang dan malam. Aisyah hidup di bawah pengawasan guru terbesar di dunia ini, dalam waktu 9 tahun. Sebab itulah Aisyah menjadi seorang alim, saleh dan bertaqwa. Aisyah adalah satu-satunya wanita yang masih gadis, ketika dikawini Rasulullah saw. Istri-istri beliau yang lain semuanya janda, sebab itu mereka telah pernah mendapat pengajaran dari suaminya terdahulu. Tetapi Aisyah memasuki rumah tangga Rasulullah denga jiwa yang putih bersih laksana secarik kertas baru. Dia punya pikiran yang mudah patuh. Perbedaan ini sangat penting. Kepribadian Rasulullah saw yang menarik itu, cukup mempunyai tenaga untuk membentuk hati dan rohani seseorang. Hati dan rohani Aisyah mendapat pembentukan menurut irama ajaran Nabi. Hasil yang memuaskan ini mendapat pujian istimewa dari Rasulullah saw. Rasulullah saw juga percaya, bahwa Aisyah akan memainkan peranan penting dalam perjuaannya Islam sesudah beliau wafat. Demikian semoga tulisan ini memberi hikmah betapa pentingnya pendidikan bagi seorang muslimah. Aisyah r.a.: Idola Wanita Sepanjang Masa Wanita yang satu ini memang luar biasa. Rasulullah saw. menjulukinya "Humaira" (Si Jelita yang kemerah-merahan pipinya). Bahkan, ia tak hanya cantik lahirnya, sopan tutur katanya, dan lembut perilakunya, tetapi juga dikenal sebagai wanita yang smart (cerdas) dan pandai sehingga menjadikannya termasuk al-mukatsirin (orang yang terbanyak meriwayatkan hadis). Disebutkan, muslimah yang wafat pada usia 63 tahun ini telah meriwayatkan sebanyak 2210 hadis: 297 di antaranya tersebut dalam kitab shahihain dan yang mencapai derajat muttafaq `alaih 174 hadis. Tentang keutamannya yang lain, Aisyah ra. pernah bilang seperti ini, "Saya telah dianugerahi sembilan perkara yang tidak pernah diberikan kepada siapa pun setelah Maryam binti Imran. Kesembilan perkara itu adalah: 1) Telah datang Jibril (dalam mimpi Rasulullah saw.) dengan gambarku dan menyuruh beliau untuk menikahiku. 2) Rasulullah saw. menikahiku dalam keadaan perawan dan tidak demikian halnya dengan istri Rasul yang lain. 3) Rasulullah saw. wafat di pangkuanku. 4) Sayalah yang menguburkan Rasulullah saw di rumahku. 5) Ketika wahyu turun kepada Rasulullah saw, saya pernah turut serta menemaninya di biliknya. 6) Saya adalah putri khalifahnya dan teman kepercayaannya, yaitu Abu Bakar as-Shidiq. 7) Telah turun permaafan (udzur) buatku dari langit (dalam peristiwa haditsul ifki'). 8) Saya telah diciptakan dalam keadaan baik (suci) untuk mendampingi orang yang baik. 9) Saya telah dijanjikan pengampunan dan rezeki yang mulia. " Wallahua a'lam

»»  READMORE...

Selasa, 08 Mei 2012

Masyitah dan bayinya yang dilindungi Allah

Firaun mengaku dirinya Tuhan dan memaksa semua rakyat jelata agar menyembah dan memperhambakan diri padanya. Barang siapa yang engkar dengan suruhannya akan diseksa atau dihukum bunuh. Begitulah kejamnya Firaun. Walaupun hukuman diugut dengan hukuman bunuh, terdapat beberapa orang yang telah sedar dan beriman kepada Allah. Diantaranya ialah Siti Asiah, isteri Firaun sendiri dan keluarga Masyitah. Masyit...ah adalah pelayan raja yang paling lebih terkenal sebagai tukang sikat keluarga Firaun. Mereka terpaksa menyembunyikan keislaman mereka agar dengan itu mereka tidak diganggu oleh Firaun dan orang-orangnya. Walau bagaimanapun suatu hari, sewaktu Masyitah sedang menyikat rambut salah seorang daripada puteri Firaun, tiba-tiba sikat itu terjatuh dan tanpa disengajakan dia melatah dan menyebut, “Allah!” Puteri tersebut bertanya siapakah `Allah` itu. Pada mulanya Masyitah enggan menjawab pertanyaan itu. Namun puteri itu terus mendesak Masyitah agar menjawab pertanyaannya. Akhirnya dengan tenang Masyitah berkata, “Allah Tuhanku dan Tuhan sekalian alam .” Puteri tersebut dengan serta-merta mengadu kepada Firaun tentang Masyitah. Firaun terperanjat apabila mendengar Masyitah menyembah selain dari dirinya. Firaun dengan kekuasaan yang ada padanya telah memerintah menterinya bernama Hamman untuk membunuh Masyitah dan keluarganya yang telah menyembah Allah. Jasa Masyitah yang begitu banyak terhadap keluarga Firaun langsung tidak dikenang oleh Firaun. Selain menjadi tukang sikat, Masyitah juga mengasuh dan menguruskan istana. Tanpa usul periksa Firaun menjatuhkan hukuman berat kepada Masyitah dan keluarganya. Begitulah zalim dan kejamnya Firaun yang tidak berhati perut langsung. Beginilah sikap manusia yang punya kuasa dan kedudukan, yang lupa bahawa dia juga hamba kepada Tuhan yang menciptakannya. Manusia yang lemah terus diseksa sesuka hatinya. Di pihak Masyitah pula, dia sedar bahwa inilah masanya Tuhan hendak menguji keimanannya. Meskipun lemah fizikalnya namun Masyitah memiliki kekuatan jiwa yang sukar ditandingi oleh wanita lain. Beliau dengan lapang dada menerima apa sahaja yang hendak dilakukan oleh manusia kufur, sombong dan bongkak itu terhadapnya. Hamman telah memaksa pengawal-pengawalnya menyediakan kawah yang besar. Hamman ingin merebus Masyitah serta keluarganya yang terdiri dari suami dan empat orang anak termasuk seorang bayi yang masih kecil. Masyitah dan keluarganya melihat air di dalam kawah yang dimasak sehingga mendidih namun itu sedikitpun tidak menggugat keyakinan mereka kepada Allah. Sebelum ditolak ke dalam kawah tersebut, Masyitah sekeluarga telah ditanya oleh Hamman samada mahu selamat dengan menyembah Firaun kembali atau masuk ke dalam kawah dengan beriman kepada Allah. Dengan tegas mereka berkata, “Kami akan terus beriman kepada Allah sekalipun terpaksa terjun ke dalam kawah yang menggelegak ini.” Maka Hamman pun memaksa satu-persatu keluarga Masyitah terjun ke kawah tersebut dengan sombong dan ketawa terbahak-bahak sambil menyindir dan menghina mereka. Suami Masyitah dicampak dahulu dan diikuti dengan anak-anaknya. Masyitah melihat sendiri bagaimana suami dan anak-anaknya terkapai-kapai di dalam air yang menggelegak itu. Akhirnya tinggal Masyitah bersama bayi yang sedang dikendongnya. Di waktu itulah syaitan membisik ke telinganya, tidakkah dia rasa kasihan dan simpati pada bayinya yang masih merah dan tidak tahu apa-apa itu. Masyitah mula merasa ragu-ragu sama ada hendak membiarkan dirinya dicampak ke dalam kawah itu atau tidak. Ketika itu, dengan kuasa dan kehendak Allah, tiba-tiba anak yang masih kecil itu berkatakata berkata kepada Masyitah, ibunya, “Wahai ibu marilah kita menyusuli ayah. Sesungguhnya syurga sedang menanti kita.” Bila mendengar kata-kata itu, Masyitah dengan rasa kehambaan kepada Allah mencampakkan diri dan anaknya ke dalam kawah yang sedang menggelegak itu. Kawah itu dikacau oleh pengawal dengan menggunakan penyudip besi. Mereka dikacau seperti ikan yang direbus. Maka matilah Masyitah bersama keluarganya demi mempertahankan aqidah dan keimanan mereka. Walaupun di dunia ini menerima seksa dan sengsara tetapi di akhirat nanti, Allah telah menjamin syurga untuknya. Masyitah rela direbus hidup-hidup di dalam air menggelegak panas sehingga menyebabkan hancur dan masak kulit, isi dan seluruh badannya demi mempertahankan keyakinannya kepada Allah. Dia menerima segalanya dengan penuh keimanan, sabar dan redha kerana dia yakin Allah tidak akan mensia-siakan keyakinan itu. Begitulah hebatnya keyakinan Masyitah dan keluarganya kepada Allah. Keimanannya sungguh mendalam sehingga dia tidak takut dengan ancaman Firaun. Sememangnya Allah telah menjanjikan nikmat syurga yang kekal abadi untuk Masyitah dan keluarganya
»»  READMORE...

Sumayyah binti Khayyath - Seorang Mujahidah

Sumayyah binti Khayyath, syahidah pertama umat Islam yang menumpahkan darahnya demi mempertahankan keimanannya bersama suami dan anak lelakinya. Teladan istimewa yang wajar dikenang sepanjang zaman. Sumayyah binti Khayyath adalah seorang hamba sahaya milik Abu Hudzaifah bin Al-Mughirah. Oleh tuannya, ia dikahwinkan dengan seorang lelaki asal Yaman yang bernama Yasir bin Amir yang merupakan perantau di kota M
akkah. Kerana banyak mendapat halangan, Yasir meminta perlindungan kepada Abu Hudzaifah yang merupakan kepala suku Bani Makhzum. Hasil perkahwinannya dengan Yasir bin Amir, Sumayyah dikurniai anak lelaki yang diberi nama Ammar bin Yasir. Melalui anak lelakinya inilah, pasangan Yasir dan Sumayyah mengenali agama Islam. Suatu hari, Ammar yang mula menginjak usia remaja mendengar khabar tentang kedatangan nabi baru yang membawa ajaran Tuhan. la pun segera mencari dan ingin membuktikan khabar tersebut. Sebaik sahaja mengenali Rasulullah s.a.w., Ammar pun terus jatuh hati dan langsung mengucapkan ikrar syahadatnya. Mendapat khabar gembira, Ammar segera menceritakan kepada ayah bundanya. Berbeza dengan kebanyakan orang Quraisy yang anti bahkan memusuhi Islam, Yasir dan Sumayyah justeru menyambut gembira khabar gembira ini. Bahkan mereka kemudian mengikuti jejak Ammar untuk bersyahadat dan menjadi Muslim dan Muslimah. Keislamanan yang awalnya disembunyikan akhirnya diketahui juga. Mendengar cerita bahawa keluargaYassir ini memeluk agama Islam menimbulkan kemarahan Abu Hudzaifah. la memaksa supaya keluarga ini meninggalkan Islam dan kembali kepada agama nenek moyang mereka yang menyembah latta dan uzza. Namun ketiganya berkeras mempertahankan keyakinan mereka. Seperti yang dialami oleh golongan awal yang memeluk Islam, Yasir, Sumayyah, dan Ammar mengalami banyak sekali halangan dan cubaan. Hal ini ditambah lagi kerana status keluarga mereka yang bukan daripada kalangan bangsawan Quraisy. Akibatnya penderitaan yang mereka alami keterlaluan dan mereka diseksa dengan kejam melampaui batasan kemanusiaan. Orang yang paling kejam menyeksa mereka adalah orang-orang yang selama ini melindunginya iaitu daripada kalangan Bani Makhzum yang dipimpin Abu Hudzaifah. Sumayyah yang merupakan seorang wanita, dihumban ke atas pasir, lalu tubuhnya ditimbus dengan pasir yang sangat panas. Seakan belum puas hati, dada Sumayyah kemudiannya dihimpit dengan batu besar supaya ia tidak dapat bernafas. Lalu mereka memaks Sumayyah untuk mengimani berhala-berhala nenek moyang mereka. Namun wanita solehah ini tetap bertahan dengan keyakinannya kerana ingat janji Allah SWT bagi hamba-Nya yang bertakwa, iaitu syurga. Yasir, Sumayyah, dan Ammar terus mendapatkan seksaan yang sedemikian keji. Mereka didera, dicambuk, disalib di padang pasir yang terik, ditindih dengan batu panas, dibakar dengan besi panas, bahkan sampai ditenggelamkan ke dalam air hingga sesak nafasnya dan mengelupas kulitnya yang penuh dengan luka. Suatu hari ketika Ammar sudah tidak mampu untuk menanggung penyeksaan, ia kemudian mengadu pada Rasulullah s.a.w. mengenai keadaannya. Rasul yang setiap hari datang memberikan sokongan lantas berseru, “Sabarlah, wahai keluarga Yasir. Tempatyang dijanjikan bagi kalian adalah syurga.” Sekalipun berat seksaan yang diterima, namun ketiganya tetap mempertahankan keislamannya. Ketika berada dalam keadaan sedar, tidak ada satu pun kalimat yang teriontar dari mulut ketiganya kecuali kalimat “Ahad..Ahad..” seperti yang dilontarkan Bilal bin Rabah. Hal ini semakin meningkatkan amarah orang Quraisy kerana gagal melunturkan keimanan mereka. Hingga suatu ketika, orang Quraisy berasa putus asa dengan keteguhan iman ketiganya, mereka memutuskan membunuh Sumayyah. Adalah Abu Jahal yang melaksanakan perbuatan keji tersebut. Dengan tombaknya yang runcing, Abu Jahal menjadikan Sumayyah mujahidah pertama yang gugur di jalan Allah apabila tombak tersebut menembusi dada Sumayyah. Menjelang wafatnya, tidak sedetik pun Sumayyah menggadaikan keimanannya. Sumayyah binti Khayyath simbol ketabahan hati, kekuatan iman, dan ketangguhan jiwa seorang mujahidah. la rela mengorbankan segala-galanya, termasukjiwa dan raganya demi Islam. Sumayyah binti Khayyath syahid dengan meninggalkan teladan yang luar biasa. Tidak hairan ia menjadi wanita yang sangat mulia dengan keberanian dan ketabahannya. “Apakah manusia itu mengira bahawa mereka dibiarkan (sahaja) mengatakan: “Kami telah beriman” sedang mereka tidak diuji lagi?” (Surah Al Ankabut, ayat 2)
»»  READMORE...

Minggu, 29 April 2012

Zinnirah - Wanita Mata Kasarnya Buta Tapi Mata Hatinya Celik

Seseorang muslim dalam mempertahankan aqidah Islam ketika menghadapi suasana penindasan yang hebat merupakan contoh kesabaran yang agung. Pegangan aqidah yang bertunjangkan tauhid kepada Allah menjadi harta yang tiada ternilai bagi setiap muslim. Ia adalah cahaya yang menyinari hidup insan dan penyelamat dalam mengharungi sengsara kacau-bilau pada hari pembalasan. Perkembangan dakwah Rasulullah S.A.W pada peringkat awal banyak dibantu oleh kesabaran kaum muslimin dan muslimat dalam mempertahankan pegangan aqidah mereka. Sikap inilah yang membuahkan hasil yang amat berharga dalam sejarah perkembangan Islam hinggalah ke hari ini. Islam masih kekal dan terus mekar dalam jiwa setiap umat Islam.

Kisah seorang muslimat sejati bernama Zinnirah adalah antara contoh terunggul pengorbanan seorang muslimah demi mempertahankan aqidah yang telah meresap ke dalam lubuk hatinya. Beliau dipilih oleh Allah untuk menerima ujian yang cukup getir. Beliau menerima hidayah Allah pada peringkat awal dakwah Rasulullah S.A.W iaitu semasa baginda S.A.W berdakwah secara sembunyi-sembunyi di kalangan rakan karib baginda. Dalam sejarah Islam, golongan yang pertama memeluk Islam inilah yang banyak menerima ujian daripada Allah S.W.T

Zinnirah adalah seorang wanita berketurunan bangsa Rom. Beliau telah ditawan dan dijual di sebuah pasar di Mekah. Akhirnya beliau telah dibeli oleh Umar Al-Khattab untuk dijadikan hamba. Dari segi fizikalnya, Zinnirah kelihatan seorang yang lemah, tetapi dari segi spiritualnya beliau mempunyai jiwa yang cukup kental dan tabah.


Rasulullah S.A.W memulakan dakwahnya secara sembunyi-sembunyi di kalangan orang-orang tertentu termasuk golongan bawahan. Antara yang menerima cahya keimanan ini ialah Zinnirah. beliau telah menerima dengan sepenuh hati. Pada peringkat awak keislamannya, Zinnirah melakukan suruhan-suruhan islam secara sembunyi-sembunyi, takut diketahui tuannya, Umar Al-Khattab. Beliau bersolat, berzikir, membaca Al-Quran, berdoa kepada Allah dengan penuh syahdu dan keinsafan. Semuanya dilakukan secara berhati-hati.

Penderitaan ke atas Zinnirah ini bermula setelah tuannya Umar Al-Khattab mengetahui keIslamannya. Umar telah dapat menghidu perubahan yang berlaku ke atas diri hambanya itu. Setelah diselidiki, nyatalah bahawa hambanya meninggalkan agama nenek moyang dan menerima ajaran tauhid yang dibawa Nabi Muhammad S.A.W.

Umar Al-Khattab cukup terkenal dengan sikap memusuhi Rasulullah S.A.W dan agama Islam sebelum keIslamannya. Beliau selalu mencerca Muhammad S.A.W. Beliau mencabar sahabat-sahabat yang telah memeluk Islam dengan sikap berani dan tegasnya itu. Beliau sanggup menanam anak perempuannya hidup-hidup kerana malu dipandang masyarakat. Dengan sifat keberanian inilah yang telah mendorong Rasulullah S.A.W berdoa agar salah seorang daripada dua Umar di Mekah supaya memeluk Islam.

Zinnirah menjadi mangsa awal di atas sikap kebencian Umar Al-Khattab terhadap Islam dan kaum muslimin. Apalagi, teruklah Umar menyeksa dan mendera Zinnirah dengan harapan Zinnirah akan kembali kepada agama asalnya dan meninggalkan Islam. Pelbagai seksaan dikenakan terhadap Zinnirah. Pukulan, hentakan, sepak terajang, dijemur di tengah-tengah panas terik adalah rutin kehidupan biasa Zinnirah. Semuanya dihadapi dengan tenang dan sabar, di samping hati dan jiwanya bergantung penuh kepada pertolongan Allah S.W.T.

Kemuncak penderaan terhadap Zinnirah ialah apabila matanya dicucuk dengan besi panas. Beliau kehilangan kedua-dua matanya dan terpaksa mengharungi hidup dengan penuh kegelapan. Matanya buta, tetapi hati dan jiwanya penuh dengan cahaya keimanan. Iman menjadi penyuluh hidupnya dalam kesengsaraan azab dari tuannya.

"Ini untukmu Ya Allah. Aku mengharungi kesengsaraan ini untuk mendapat kesenangan di akhirat kelak. Perjuangan ini sememangnya berat, selalu menderita dan sengsara kerana aku sedar untuk mendapat syurga. aku terpaksa menagih ujian berat, sedangkan neraka itu dipagari oleh pelbagai kesenangan." Inilah rintihan hati Zinnirah kepada Allah S.W.T ketika bermunajat kepada Allah di setiap malam sebagai penawar jiwa di atas segala kesusahan yang dia hadapi. Jiwanya semakin kukuh. Imannya semakin teguh.

Pengorbanan Zinnirah mendapat cercaan kaum musyrikin Mekah. Pelbagai cacian dilemparkan kepadanya. Mereka mengatakan Zinnirah buta kerana dilaknat oleh tuhan Latta dan Uzza. Mereka mencabarnya kerana Zinnirah mempertahankan diri dengan mengatakan dirinya buta bukan kerana tuhan mereka, sebaliknya ia adalah perbuatan Umar dan Allah mengizinkan ianya berlaku.

Walaupun diuji dengan pelbagai rupa, keyakinannya kepada Allah tidak berubah. Allah memberi karamah kepadanya. Matanya yang buta itu dapat melihat kembali dengan karamah Allah S.W.T. Dia dapat menikmati semula keindahan ciptaan Allah S.W.T. dengan penuh kesyukuran kepada Allah dan imannya semakin tinggi.

Dengan taufiq hidayah Allah, Umar akhirnya memeluk Islam jua.

»»  READMORE...